Heart to
Heart Jurus Ampuh PR Perusahaan Trans TV Dalam Meredam Krisis
Siapa yang tidak ingin disentuh
melalui hatinya?
Masalah itu akan selalu ada, namun
bagaimana kita membungkusnya, mengolahnya akan berpengaruh terhadap dampak
permasalahan itu sendiri.
Beberapa waktu yang lalu adanya tuntutan atau somasi
dari The Hindu Centre of Indonesia atas tayangan “Wayang Bandel” edisi 12 Mei
2012 dengan tema “Sastra Mahabarata” di stasiun televisi swasta Trans TV telah
membuat kedua belah pihak semakin memanas. Terbukti pihak Trans TV sebagai
pihak tertuntut masih bersikeras untuk tidak menutup progamnya, namun dilain
pihak The Hindu Center of Indonesia mengancam kepada Trans TV untuk
menghentikan tayangan Wayang Bandel dengan deadline selama 30 hari, jika tidak
akan ada gelombang penolakan besar-besaran terhadap Trans TV dan Trans 7.
Yang memberatkan bagi The Hindu Centre of Indonesia
ialah program tersebut sudah mempermainkan figur suci yang terdapat di kitab
suci Weda, yaitu Yudhistira, Drupadi, Duryodhana, dan Dursasana. Pelecehan
tersebut seperti kata-kata yang kasar, visualisasi, serta dialog yang jauh dari
nilai kepatutan.
Namun, permasalahannya disini adalah tidak adanya
kesengajaan pihak Trans TV untuk melecehkan umat Hindu melalui progamnya.
Namun, kesalahan yang terjadi tanpa adanya unsur kesengajaan itu sudah menyulut
api permusuhan diantara kedua belah pihak.
Apa yang seharusnya dilakukan seorang Public Relations
perusahaan untuk menghadapi krisis ini akan dibahas dalam tulisan ini.
Public Realations (PR) mempunyai andil dalam mengatur
suasana di dalam maupun diluar perusahaan, antara karyawan dengan karyawan
maupun antara perusahaan dengan masyaraka perusahaan. Pada tulisan ini akan
dibahas lebih mendalam tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan seorang
PR dalam memanajemen sebuah krisis atau konflik yang sedang terjadi antara
perusahaan dengan masyarakat perusahaan, dan disni yang dimaksud masyarakat
perusahaan dalam edisi ini adalah masyarakat yang menjadi bagian dari perusahaan
Trans TV (penonton Trans TV dan khususnya bagi pemeluk agama Hindu).
Untuk itulah peran dari Jurus “Heart to Heart” dari PR
sebagai agen problem solver, dan juga sebagai mediator sangatlah urgent melihat
permasalahannya sudah berada di ranah kesakralan suatu agama (keyakinan).
Pendekatan “ heart to heart “ menjadi senjata ampuh bagi seorang PR dalam
menangani kasus-kasus yang terjadi sebagai langkah untuk meredam konflik, dan
selanjutnya akan di bahas lebih mendalam apa itu PR sebagai Problem Solver dan
Pendekatan Inovatif “ Heart to Heart” sebagai inti bahasan jurnal kali ini.
Studi kasus
Konflik antara perusahaan Trans
TV dengan Hindu Centre of Indonesia dalam kasus pemboikotan terhadap acara
“Wayang Bandel” dinilai sangatlah riskan apabila kedua belah pihak terus
memanas. Karena pelecehan unsur sara dinilai sudah menempel pada tayangan
tersebut. Beberapa contoh yang dapat disimak, terjadi kesalahan penyebutan
tempat dan nama-nama suci secara sengaja oleh para artis. Seperti Indrapasta
menjadi Indraprahasta, Dursasana menjadi Bursasana, Duryadana menjadi Burdayana
dan juga termasuk kata ‘Mantra’ diganti jadi ‘Mandra’. Padahal Mantra merupakan
bahasa sansekerta dan identik dengan ritual hindu yang disucikan dan
diagungkan. Hal itu pastilah sangat melukai perasaan pemeluk agama Hindu,
bahkan kasus ini telah sampai ke level internasional.
Meski demikian Trans TV menolak
untuk menghilangkan tayangan tersebut karena mungkin faktor latar belakangnya
perusahaan industri serta komersial juga dinilai menjadi ruh perusahaannya,
akan tetapi yang menjadi masalah tidak harus menyinggung keyakinan
masing-masing karena khalayak mereka luas, dan mempunyai ragam keyakinan.
Heart to Heart
atau dari hati ke hati, segala
sesuatu yang bersumber dari hati terlebih dahulu yang dikombinasikan dengan
kecakapan akal akan menjadi senjata ampuh bagi PR untuk menyelesaikan sebuh
konflik. Jurus “Heart to Heart“ yang diterapkan PR Trans TV dalam meredam
konflik diantara langkah-langkah yang sudah dilakukannya adalah :
Meminta Maaf
Pada kasus ini, artis-artis yang
berperan dalam Wayang Bandel, seperti Olga Syahputra, Jessica Iskandar, Arumi
Bachsin, Ayu Dewi, dan lainnya juga telah memintaa maaf terhadap publik, dan
khususnya kepada umat Hindu Indonesia. Mereka akan memperbaiki dan bersikap
hati-hati untuk ke depannya agar tidak lagi dianggap melecehkan agama. Menjadi
suatu langkah yang tepat bagi seorang Public Figur saat pertama kali memnjalin
hubungan yang sempat terganggu pasca konflik. Sederhana namun essensi Heart to
Heart- nya akan menjadi ruh utama sebelum menuju ke langkah berikutnya. Tidak
hanya itu sebagai seorang PR perusahaan Hadiansyah Lubis, Manager Humas Trans
TV juga menyampaikan permohonan maaf kepada umat Hindu yang tergabung dalam The
Hindu Center of Indonesia sesaat pertama kali mendapatkan teguran.
Meski begitu kata “Maaf”
bukanlah hal yang gampang diresapi bagi pihak korban sehingga diperlukan cara
yang tidak semudah membalikkan telepak tangan apalagi melihat urusan yang sudah
pelik. Di dalam prakteknya terkadang merminta maaf tidak lantas menyelesaikan
masalah tetapi malah sebaliknya, agar permintaan maaf benar-benar menjadi
senjata yang efektif untuk menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi harus
memuat trik-trik ini.
1. Pemilihan waktu yang tepat
sebagai kepekaan perusahaan
Di saat suasana dirasa tepat
lancarkan perminta maafan itu, pihak Trans TV yang di wakili oleh humasnya
sangat mengerti kapan saatnya harus mengungkapkan hal itu. Tidak terlalu lama
dari kejadian dan juga tidak tergesa-gesa dalam mengungkapkan, itu akan membuat
citra bahwa perusahaan lebih mengerti. Dan begitu pula juga tidak terlalu lama
dalam meminta maaf menunjukkan wujud kepekaan perusahaan terhadap kesalahan
yang terjadi.
Suasana sangat mempengaruhi,
ketika seseorang sedang emosi, bisa saja permintaan maaf itu tidak akan
diterima.
2. Menyadari kesalahan
Mengakui kesalahan akan menjadi
jurus yang mampu meluluhkan pihak yang bersangkutan dan membuat permintaan maaf
dapat diterima. Tidak hanya menggandalkan rayuan “pengakuan kesalahan” namun
harus dilengkapi dengan rasa tanggung jawab atas semua yang telah terjadi,
seperti pengevaluasian progam Wayang Bandel oleh pihak Trans TV menunjukkan
rasa tanggung jawabnya sebagai bentuk pengakuan kesalahan yang kedepannya
konflik ini tidak akan terulang kembali.
3. Memberikan penjelasan
Meyakinkan pihak korban bahwa
hal ini tidak akan terjadi kembali, sebenarnya tidak ada maksud untuk membuat
konflik seperti ini, dengan keseriusan tentunya. Mengadakan press conference,
di umumkan melalui media masa sebagi bukti penjelasan terhadap khalayak luas
seperti yang telah dilakukan humas/ PR trans TV sesaat setelah terjadi konflik.
4. Ganti rugi
Agar lebih sempurna tawarkan
perbaikan citra bagi pihak korban, mungkin saja kesalahan itu sudah menjalar
kedampak yang sangat merugikan korban. Namun seyogyanya haruslah tanggung jawab
itu selalu ada, toh nanti timbal baliknya terhadap citra perusahaan juga.
Meskipun terkadang hanya pemanis namun trik yang keempat ini sangatlah penting bagi pengusai konflik, contohnya memberi hadiah juga sangat membantu proses mediasi pasca konflik.
Meskipun terkadang hanya pemanis namun trik yang keempat ini sangatlah penting bagi pengusai konflik, contohnya memberi hadiah juga sangat membantu proses mediasi pasca konflik.
Mengevaluasi Isi
Progam
Langkah terakhir dalam jurus ini
adalah melakukan penilaian atas persiapan, implementasi, dan hasil program.
Penyesuaian akan dilakukan bersamaan dengan program yang diimplementasikan, dan
didasarkan pada evaluai atau umpan balik (feedback) tentang bagaimana program
itu berhasil atau tidak. Program akan dilanjutkan atau dihentikan setelah
menjawab pertanyaan “Bagaimana keadaan kita sekarang atau seberapa baik langkah
yang telah kita lakukan?” Masing-masing langkah adalah penting, namun proses
itu dimulai dengan pengumpulan data untuk mendiagnosis problem. Informasi dan
pemahaman yang terbentuk di langkah pertama akan mendorong dan memandu langkah
berikutnya dalam proses manajemen Public Relations.
Dalam praktiknya, tentu saja diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi tidak dapat dipisahkan secara tegas seperti itu, sebab proses ini berkelanjutan dan bersifat siklis dan diaplikasikan dalam seting yang dinamis.
Dalam praktiknya, tentu saja diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi tidak dapat dipisahkan secara tegas seperti itu, sebab proses ini berkelanjutan dan bersifat siklis dan diaplikasikan dalam seting yang dinamis.
Evaluasi sendiri menjadi sebuah
kode etik bagi seseorang yang berprofesi sebagai PR di perusahaan manapun.
Karena itulah yang menjadi sebuah tangggung jawab moral dan profesional
terhadap perusahaan, masyarakat bahkan untuk dirinya sendiri. Fungsi manajemen
melakukan evaluasi terhadap sikap dua publik yaitu antara internal perusahaan
dengan masyarakat perusahaan adalah mengidentifikasikan kebijakan dan prosedur
seseorang atau sebuah perusahaan terhadap publiknya, menyusun rencana serta
menjalankan program-program komunikasi untuk memperoleh pemahaman dan
penerimaan publik.
Kemampuan manajerial atau kepemimpinan seorang PR dapat diartikan sebagai kemampuan mengantisipasi masalah dalam dan luar organisasi,termasuk kemampuan untuk evaluasi. Karena evaluasi memanajemen krisis pada tahap resolusi pasca konflik. Seperti yang telah kita ketahui bersama jurus Heart to heart pihak Trans TV ialah telah dilakukannya evaluasi progam ”Wayang Bandel” guna memperbaiki isi tayangan yang dianggap kurang sesuai, karena adanya seorang PR ditargetkan untuk, Public Understanding, Public Confidence, Public Support, Public Cooperation bagi perusahaan. Sehingga dengan evaluasi tersebut kedepannya tidak ada lagi progam yang menyeleweng dan seperti tujuan semula konflik yang terjadi segera usai.
Kemampuan manajerial atau kepemimpinan seorang PR dapat diartikan sebagai kemampuan mengantisipasi masalah dalam dan luar organisasi,termasuk kemampuan untuk evaluasi. Karena evaluasi memanajemen krisis pada tahap resolusi pasca konflik. Seperti yang telah kita ketahui bersama jurus Heart to heart pihak Trans TV ialah telah dilakukannya evaluasi progam ”Wayang Bandel” guna memperbaiki isi tayangan yang dianggap kurang sesuai, karena adanya seorang PR ditargetkan untuk, Public Understanding, Public Confidence, Public Support, Public Cooperation bagi perusahaan. Sehingga dengan evaluasi tersebut kedepannya tidak ada lagi progam yang menyeleweng dan seperti tujuan semula konflik yang terjadi segera usai.
Proses Public Relations selalu dimulai dari mengumpulkan fakta dan diakhiri pula dengan pengumpulan fakta. Untuk mengetahui prosesnya sudah selesai atau belum, seorang Public Relations perlu melakukan evaluasi atas langkah-langkah yang telah diambil. Maka, tahap ini akan melibatkan pengukuran atas hasil tindakan di masa lalu. Penyesuaian dapat dibuat dalam program yang sama, atau setelah suatu masa berakhir.
Disini pihak Trans TV sudah
berusaha untuk menjalin hubungan kembali guna membuat kondisi komunikasi yang
lebih baik antara perusahaan (Trans TV) dengan masyarakat khalayaknya (The
Hindu Center of Indonesia) menggunakan strategi “Heart to Heart Public
Relations” jurus harmonis yang dengannya diharapkan suasana kembali damai
diantara kedua belah pihak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar