Layaknya
teori dalam system komunikasi kelompok, seorang ibu dengan 2 orang anak nya
menjalani interaksi, berkomunikasi, dan memberikan pengaruh satu sama lain
dengan kelompoknya dengan intensitas waktu yang tidak bisa dibilang singkat.
Kelompok yang turut meramaikan kehidupan sehari-hari si ibu tersebut, terbagi
menjadi beberapa klasifikasi. Seperti hubungannya dengan, suaminya, merupakan
contoh konkret dari klasifikasi kelompok primer, karena dalam hubungan
tersebut melibatkan keterkaitan secara emosional antara keduanya. Begitu juga
hubungan yang terjalin antara ibu dengan salah satu anaknya, karena merasa
sangat akrab mereka pun lebih banyak memberikan cerita-cerita pribadi satu sama
lain, sehingga hubungan mereka ini dikategorikan sebagai kelompok primer karena
terjalin lebih personal dibandingkan dengan orang lain.
Sedangkan
untuk kelompok sekunder dapat dicontohkan antara hubungan si ibu dengan
ibu rumah tangga lainnya yang sama-sama mengantar anaknya bermain di taman,
atau para wanita yang bersama-sama dengan si ibu berbelanja di sebuah toko
pakaian yang sedang mengadakan diskon, ataupun ibu-ibu lain yang juga sedang
berbelanja di toko mainan anak-anak. Hubungan ini dimasukan kedalam kategori
kelompok sekunder karena antara si ibu dan ibu rumah tangga lainnya atau para
wanita tersebut tidak terjalin keakraban yang berarti, dan hubungan mereka pun
tidak terjalin dengan lebih personal.
Dalam
teori ini juga mengenal istilah ingroup dan outgroup. Kelompok primer
dan sekunder yang dimiliki si ibu bisa juga disebut dengan ingroup, sedangkan
kelompok lain yang dimiliki orang lain bagi si ibu merupakan outgroup Kemudian
dalam kesehariannya si ibu juga mempunyai sebuah kelompok rujukan sebagai
tempatnya berkeluh kesah mengenai segala apa yang dia rasakan dan meminta saran
serta menyalurkan hobi untuk menulis sekaligus tempatnya untuk mengukur dan
menilai dirinya sendiri namun tidak mengabaikan keinginannya untuk tetap
menjadi seorang penulis atau belum. Dalam kategori kelompok deskriptif
yaitu yang mengelompokkan kelompok berdasarkan tujuannya terdapat yang disebut
dengan kelompok katarsis, yaitu kelompok yang difungsikan sebagai tempat
melepaskan perasaan. Kelompok ini di punyai juga oleh si ibu. Dengan blog yang
sering dia tulis sebagai tempat mencurahkan keluhannya.
Berbagai
kelompok yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari ternyata mempunyai perannya
tersendiri. Salah satu peran kelompok adalah sebagai identitas bagi anggotanya.
Seperti kelompok yang diikuti oleh si ibu, merupakan pengidentitasan diri si
ibu sebagai wanita atau ibu yang feminin, karena kelompok tersebut terkenal
sebagai kelompok yang memegang prinsip feminisme. Dalam kelompok tersebut juga
terdapat berbagai pengaruh yang terjadi didalamnya. Salah satunya yaitu
konformitas. Dalam kelompok ini berpeluang terjadi pengaruh konformitas
karena sejumlah anggota kelompok memiliki kecenderungan yang sama, yaitu usia
atau status (orang tua).
Hal
tersebut melibatkan factor personal didalamnya. Dalam kelompoknya
sebagai istri dan orang tua yang dituntut untuk dapat menyelesaikan segala
macam masalah yang ada dalam keluarganya termasuk segala kegiatan didalamnya berpeluang menimbulkan polarisasi. keputusan yang dapat diambil dari kasus yang dihadapi si ibu ini adalah memperbaiki komunikasinya terutama dengan suaminya sendiri. mengurangi kegiatan-kegiatanya diluar rumah yang hanya membuang waktu, lebih memprioritaskan keluarga, dan melakukan komunikasi yang efektif dalam kehidupannya, membicarakan setiap masalah yang dihadapi dengan keluarganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar